Mengenal Sosok Ummul Mukminin dan Rumah Ummul Mukminin

Mengenal Sosok Ummul Mukminin dan Rumah Ummul Mukminin

Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab bin Sa’yah merupakan seorang wanita keturunan bangsawan, cerdas, cantik, dan taat beragama. Wanita ini berasal dari keturunan Al-Lawi, putra Ya’qub ( Israel) bin Ishak bin Ibrahim as, yang juga merupakan kakek moyang dari nabi Harun as. Ayahnya yaitu Huyay bin Akhthab bin Sa’yah adalah seorang pendeta sekaligus pembesar Yahudi bani Qurayzhah. Ibunya, Barrah binti Samaual juga seorang Yahudi dari bani yang sama. Mereka tinggal di Madinah yang ketika itu masih bernama Yatsrib.

Sejak kecil Shafiyyah sudah menyukai ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari sejarah dan kepercayaan bangsa nya. Dari kitab suci agama nya, Taurat, ia mengetahui bahwa suatu hari nanti akan datang seorang nabi dari Jazirah Arab yang akan menjadi penutup para nabi.

Mengenal Sosok Ummul Mukminin dan Rumah Ummul Mukminin
Mengenal Sosok Ummul Mukminin dan Rumah Ummul Mukminin

Maka ketika suatu hari ia mendengar kabar bahwa di Mekah ada seorang laki-laki  yang mengaku nabi, dan saat ini sedang menuju ke kotanya, Yatsrib, ia tak heran. Yang justru ia heran adalah sikap kaumnya termasuk ayahnya yang tidak mau mempercayai hal tersebut, padahal ia adalah seorang pendeta. Bahkan dengan gigih memusuhinya.

Hal itu ia dengar sendiri ketika ayah dan pamannya baru pulang untuk mencari tahu tentang sang nabi baru yang hijrah ke Madinah dan mampir di Quba’ sebagai tamu Bani Amr bin ‘Auf. Ketika itu ayah dan paman Syafiyyah pergi meninggalkan rumah seharian penuh.

Dan sejak itu pula kaum Yahudi selalu memerangi nabi baru yang tidak lain tidak bukan adalah Nabi Muhammad saw. Sebalik nya dengan Shafiyah, ia justru  makin yakin bahwa nabi baru tersebut adalah nabi yang di maksud dalam kitab nya. Syafiyyah menjadi saksi betapa besarnya kebencian sang ayah nya terhadap ajaran islam dan rasul nya. Beberapa kali ayah nya sebagai seorang pemimpin Yahudi melanggar perjanjian yang dibuat oleh rasulullah saw. Padahal perjanjian Madinah yang di ciptakan demi tercapai nya keamanan kota Madinah yang bukan lagi hanya di diami suku-suku Yahudi, melain kan juga kaum Muslimin baik kaum Anshar ( Muslimin Madinah) maupun kaum Muhajirin ( Muslimin Mekah yang hijrah ke Madinah) itu di tanda-tangani oleh para pemimpin Yahudi.

Kebencian Huyay bin Akhtab sendiri terhadap kaum Muslimin makin menjadi-jadi sejak di usir nya Yahudi bani Nadhir dari Madinah pada tahun ke 4 Hijriyah karena telah berusaha membunuh Nabi Muhammad saw. Setahun kemudian, dalam perang Khandaq, ketika Madinah di serang dan kaum Muslimin sedang kesulitan melawan kaum Qurays Mekah dan suku-suku Arab lainnya, Huyay menusuk dari belakang. Ia berkhianat dengan mengadakan pertemuan rahasia dengan pihak musuh demi mengalah kan pasukan Muslimin.

Usai perang Khandaq, atas perintah Allah swt melalui malaikat Jibril as, Rasulullah saw segera menuju perkampungan bani Quraydzah. Setelah di kepung selama 15 atau 25 malam, yang pada akhirnya mereka berhasil di tunduk kan. Tapi Huyay, yang juga membawa serta putri kesayangan nya, Shafiyyah, sempat meloloskan diri dan pindah ke Khaibar, yang merupakan kota terbesar Yahudi. Di kota inilah Huyay bersama para pemimpin Yahudi lainnya membentuk pertahanan yang kuat untuk persiapan menyerang kaum Muslimin.

Penaklukan Khaibar

Khaibar adalah kota terbesar Yahudi yang memiliki banyak benteng dan ladang-ladang kurma. Tanah kota tersebut di kenal amat subur, airnya yang berlimpah dan berbagai buah tumbuh dengan mudah di tanah ini. Kota yang merupakan  benteng utama Yahudi ini terletak sekitar 165 km utara Madinah.

Pada tahun ke 6 Hijriyah, usai perjanjian Hudaibiyah, Nabi Muhammad Saw menerima perintah agar memerangi Khaibar. Perang ini berlangsung dahsyat dengan kemenangan di tangan kaum Muslimin. Pasukan kaum Muslimin berhasil mengalahkan benteng pertahanan terakhir dan terkuat Yahudi tersebut. Huyay mati terbunuh dalam peperangan itu. Demikian pula Kinanah, suami ke 2 Shafyiyah. Sementara Syafiyyah beserta kaum wanita nya dan anak-anak nya tertawan. Ikuti Program Umroh Murah.

Dalam suatu riwayat, di ceritakan bahwa Bilal menggiring Shafiyah sebagai salah satu tawanan, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah SAW. Melihat itu, Rasulullah SAW bangkit dan mendekati Bilal seraya berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”

Masuk Islam dan Menikah dengan Nabi Muhammad Saw

Shafiyyah masuk dalam bagian pendapatan perang seorang sahabat, Dahiyyah bin Khalifah. Namun kemudian seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, engkau memberikan bagian kepada Dahiyyah, Shafiyah binti Huyay, putri pemimpin Bani Quraizhah dan Bani Nadhir, padahal ia hanya layak untuk engkau.”

Mengenal Sosok Ummul Mukminin dan Rumah Ummul Mukminin
Mengenal Sosok Ummul Mukminin dan Rumah Ummul Mukminin

Mendengar itu Rasulullahpun memanggil Dahiyyah dan menyuruhnya agar memilih tawanan yang lain. Sementara Rasulullah yang memang mempunyai hak harta perang seperlima bagian memberikan pilihan kepada Shafiyah, apakah ingin dimerdekakan, kemudian dikembalikan kepada kaumnya yang masih hidup di Khaibar, ataukah masuk Islam kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Ternyata Shafiyah yang sejak awal sudah yakin dengan adanya nabi baru, memilih untuk masuk Islam dan menikah dengan Rasulullah, dengan maskawin kemerdekaannya.

Pada saat itu, Shafiyah berkata, “Ya Rasulullah, saya memeluk Islam dan saya sudah percaya kepadamu sebelum engkau mengajak saya. Saya sudah sampai pada perjalananmu. Saya tidak punya keperluan kepada orang-orang Yahudi. Saya sudah tidak mempunyai bapak, dan tidak mempunyai saudara yang merdeka. Lalu untuk apa saya kembali kepada kaumku?”

Bukti bahwa Shafiyyah sudah mengimani nabi jauh sebelum ia bertemu nabi, tercermin dari kisah berikut. Suatu hari rasulullah bertanya tentang bekas luka di wajah Shafiyyah dan bertanya, “Apa ini?”. Syafiyah menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah itu?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

Sayang kedatangan istri ke 9 Rasulullah SAW ini disambut sinis oleh istri-istri nabi yang lain. Ini disebabkan selain karena ia seorang Yahudi, juga karena kecemburuan para istri terhadap kecantikan Shafiyyah.

Berikut penuturan Aisyah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tengah dalam perjalanan. Tiba-tiba unta Shafiyyah sakit, sementara unta Zainab berlebih. Rasulullah berkata kepada Zainab, ‘Unta tunggangan Shafiyyah sakit, maukah engkau meminjamkan salah satu untamu?’ Zainab menjawab, ‘Akankah aku memberi kepada seorang perempuan Yahudi?’

Di dalam hadits riwayat Tirmidzi diceritakan, “ Shafiyyah sedang menangis, kemudian Rasulullah menghampirinya dan bertanya, ‘Mengapa engkau menangis?’ Ia menjawab, “Hafshah mengejekku bahwa aku wanita Yahudi’. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Engkau adalah anak nabi, pamanmu adalah nabi, dan kini engkau berada di bawah perlindungan nabi. Apa lagi yang dia banggakan kepadamu?’. Kemudian Rasulullah menegur Hafshah, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, wahai Hafshah!”

Sementara pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Saad, ketika istri-istri Nabi berkumpul menjelang Rasulullah wafat, Shafiyyah berkata, “Demi Allah, ya Nabi, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.” Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal yang demikian, Rasul bersabda, “Berkumurlah!” Dengan terkejut para istri bertanya, “Dari apa?” Rasul menjawab, “Dari isyarat mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.”

Setelah Rasulullah wafat, yaitu 4 tahun setelah Shafiyyah dinkahi, ia merasa makin terasing di tengah kaum Muslimin karena mereka selalu menganggapnya berasal dari Yahudi. Meski demikian, ummul Mukminin ini tetap tegar dan terus mendukung perjuangan Islam. Ketika terjadi fitnah besar atas kematian Utsman bin Affan, Shaifiyyah berada di barisan Utsman.

Kinanah berkata, “Aku menuntun kendaraan Shafiyyah ketika hendak membela Utsman. Kami dihadang oleh Al-Asytar, lalu ia memukul wajah keledainya hingga miring. Melihat hal itu, Shafiyyah berkata, ‘Biarkan aku kembali, jangan sampai orang ini mempermalukanku.’ Kemudian, Shafiyyah membentangkan kayu antara rumahnya dengan rumah Utsman guna menyalurkan makanan dan air minum”.

Hal itu terjadi ketika musuh-musuh Ustman menyandera khalifah ke 3 tersebut di kamarnya sendiri, tanpa diperbolehkan mendapat makanan dan minuman.

Shafiyyaf ra wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Marwan bin Hakam menshalatinya, kemudian menguburkannya di Baqi’ berdampingan dengan ummul Mukminin yang lain.

Shafiyah merawikan 10 hadits dari nabi saw. Di antaranya, “Suatu malam, nabi beri’tikaf di masjid, lalu aku datang mengunjungi beliau. Setelah selesai mengobrol, aku berdiri dan hendak pulang. Beliaupun berdiri untuk mengantarku. Tiba-tiba dua laki-laki Anshar lewat. Tatkala mereka melihat nabi, mereka mempercepat langkah mereka. “Perlahankanlah langkah kalian! Sesungguhnya ini adalah Shafiyah binti Huyai!” kata nabi. “Maha suci Allah, wahai Rasulullah”, kata mereka. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran darah manusia. Sebenarnya aku khawatir, kalau-kalau setan membisikkan tuduhan dusta atau hal yang tidak baik dalam hati kalian.” (HR. Al-Bukhari).

Rumah ummul mukminin (istri-istri Nabi Muhammad SAW) berada di sekeliling masjid Nabawi dan saat ini semuanya telah tertutup dengan Masjid Nabawi yang terus mengalami perluasan. Nabi Muhammad SAW memiliki 9 istri yang semua rumahnya ditempatkan berada di sekitar masjid Nabawi pada saat itu, yaitu di arah tenggara bersebelahan dengan Makam Baqi’ Al-Gharqad dan sebagian berada di belakang masjid antara Bab An-Nisa dan Bab Al-Rahmah. Dari sejumlah rumah ummul mukminin yang tersebar di sekeliling masjid, rumah yang ada hingga saat ini adalah rumah Aisyah RA yang dijadikan sebagai Makam Nabi Muhammad Saw.

Pada masa itu rumah yang dibangun oleh Nabi Muhammad sangatlah sederhana hanya dilapisi dengan atap dari pelepah kurma dan dinding terbuat dari tanah liat dan bata, sedangkan sebagian laginya terbuat dari tembok. Rumah Aisyah RA yang saat ini merupakan makam Nabi dulunya berdekatan dengan rumah istri Nabi yang lainnya yaitu di sebelah utara rumah Fatimah dan sebelah selatan rumah Hafsah RA. Karena dekatnya jarak rumah istri-istri Nabi, Aisyah RA dan Hafsah RA mereka bisa berbicara dari rumah masing-masing tanpa harus keluar dari rumah.

Rumah Aisyah RA memiliki ukuran yang tidak terlalu luas, jarak dari timur sampai ke barat adalah 8 meter dengan lebar 5,5 meter, dindingnya terbuat dari tembok dengan ketebalan 1 meter. Beliau memasang dua pintu di rumah Aisyah yang terbuat dari kayu biasa tanpa memiliki kunci dan tidak ada bingkai. Keduanya ditempatkan di sebelah barat sebagai jalan untuk masuk ke masjid Nabawi dan satunya lagi ditempatkan di sebelah utara.

Seiring dengan berjalannya waktu, perluasan masjid terjadi yang membuat semua rumah istri nabi harus dirombak yang mulai dilakukan pada kekhalifahan Walid bin Abdul Malik. Pengumuman mengenai perluasan Masjid Nabawi diminta oleh Al-Walid untuk dibacakan oleh Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Aziz di depan penduduk Madinah dan para alim ulama.

Para alim ulama dan penduduk yang hadir dan mendengar berita tersebut sangat sedih, salah satunya adalah Said bin Al-Musayyib RA dan berkata, “Demi Allah! Aku mengharapkan agar mereka tidak mengubah rumah-rumah itu (hujurat) agar penduduk Madinah dan generasi setelah ini dapat menyaksikan cara hidup Rasulullah SAW.”

Selain rumah Aisyah RA yang saat ini dijadikan makam Rasulullah SAW dan disampingnya sahabat nabi Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar bin Khattab, tempat memberi salam kepada Rasulullah SAW dulunya merupakan rumah dari Ummul Mukminin Hafshah RA. Makam Nabi dan dua para sahabat nya pada mulanya berada di luar masjid namun karena perluasan yang di lakukan tempat nya menjadi di dalam masjid. Begitupun dengna Makam Aisyah RA dan sebagian besar para sahabat nya di tempatkan di Baq’I yang jaraka nya semakin dekat dengan masjid karena perluasan tempat nya tersebut.